
Sumber: https://www.coindesk.com/policy/2025/12/15/senate-punts-crypto-market-structure-bill-to-next-year
Perdebatan Kongres atas RUU Struktur Pasar Crypto di Amerika Serikat kini memasuki tahap krusial, meski proses legislasi berjalan jauh di bawah ekspektasi pasar. Menjelang akhir 2025, Komite Perbankan Senat memastikan tidak akan melakukan pemungutan suara markup pada RUU tersebut tahun ini, sehingga pembahasan baru akan dilanjutkan di awal 2026. Akibatnya, para legislator gagal mencapai kesepakatan sebelum pekan legislatif terakhir 2025, membuat industri crypto menghadapi ketidakpastian kebijakan yang meningkat dalam waktu dekat.
Penundaan ini terutama disebabkan oleh perbedaan pendapat terkait yurisdiksi regulasi. SEC dan CFTC belum menentukan secara jelas tanggung jawab masing-masing dalam mengawasi aset crypto, khususnya terkait klasifikasi token dan hierarki regulasi bagi platform perdagangan. Ketidakjelasan ini menghambat terbentuknya draf legislasi yang terpadu.
Selama setahun terakhir, House of Representatives telah meloloskan versi CLARITY Act terkait struktur pasar dan menyerahkannya ke Senat. Tujuan utama RUU ini adalah memperjelas batas regulasi antara security token dan commodity token, sekaligus mengatasi ambiguitas lama tentang definisi sekuritas dalam industri crypto.
Hambatan Politik dan Praktis dalam Legislasi
Proses RUU struktur pasar tidak sekadar urusan teknis legislatif—melainkan sangat dipengaruhi strategi politik. Para analis menyoroti bahwa, menjelang pemilu paruh waktu AS 2026, sejumlah legislator Demokrat sengaja memperlambat laju legislasi. Sikap ini menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi sekaligus menghindari konflik besar dengan kepentingan keuangan tradisional.
Selain itu, lobi dari sektor perbankan serta sikap hati-hati sejumlah legislator terhadap inovasi seperti stablecoin dan DeFi semakin memperumit diskusi di Senat. Kalaupun RUU ini maju di Senat, masih harus diselaraskan dengan versi House dan akhirnya ditandatangani Presiden, sehingga proses keseluruhan sangat bergantung pada banyak variabel.
Di sisi lain, beberapa serikat pekerja dan kelompok advokasi konsumen juga menyampaikan kekhawatiran atas legislasi crypto, dengan alasan draf saat ini belum cukup melindungi investor dan bisa meningkatkan risiko sistemik. Meski pandangan ini tidak menentukan hasil akhir, mereka menyoroti negosiasi multi-pemangku kepentingan yang akan membentuk kerangka regulasi di masa depan.

Sumber: https://www.gate.com/trade/BTC_USDT
Penundaan RUU struktur pasar langsung memengaruhi sentimen pasar. Sejumlah profesional industri menilai, selama kerangka regulasi belum jelas, modal institusional arus utama akan tetap enggan masuk secara masif, dan investor cenderung berhati-hati terhadap legitimasi serta stabilitas jangka panjang industri ini.
Meski demikian, ketidakpastian regulasi tidak selalu berdampak negatif sepenuhnya. Beberapa analis menilai, tanpa kemajuan legislasi, SEC dapat mengisi kekosongan regulasi melalui aturan administratif atau panduan penegakan. Dengan memanfaatkan kerangka hukum yang sudah ada untuk memperkuat pengawasan, regulator dapat sebagian mengatasi kekhawatiran akan “regulatory vacuum”. Otoritas regulasi menegaskan berulang kali bahwa mandat saat ini sudah cukup untuk mengawasi mayoritas aktivitas pasar crypto.
Dari sisi harga, ketidakpastian kebijakan memberi tekanan jangka pendek namun belum mengubah prospek jangka menengah hingga panjang secara mendasar. Beberapa institusi tetap optimis terhadap prospek pasar di 2026, memperkirakan siklus bull berikutnya akan muncul bertahap dan berpotensi mendorong BTC ke rekor tertinggi baru.
Tren Regulasi Global: Dari AS ke Inggris
Regulasi ketat bukan hanya terjadi di Amerika Serikat. Treasury Inggris juga berencana menerapkan kerangka regulasi crypto baru, sehingga aset digital berada di bawah pengawasan serupa keuangan tradisional. Tren ini menunjukkan bahwa ekonomi utama dunia semakin sepakat bahwa transparansi regulasi sangat penting untuk pertumbuhan pasar crypto yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan rencana ini, Inggris dapat mewajibkan bursa crypto dan penyedia wallet untuk mendaftar dan mematuhi ketat persyaratan anti pencucian uang serta pengungkapan informasi. Langkah ini diperkirakan akan meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi peluang penipuan maupun aktivitas ilegal.
Menjelang 2026, seiring kerangka regulasi di yurisdiksi utama semakin jelas, modal institusional diproyeksikan menghadapi lebih sedikit hambatan sistemik untuk masuk. Implementasi regulasi stablecoin akan memperkuat fondasi pembayaran, kliring, dan transaksi on-chain, sementara aset utama seperti BTC dan ETH akan diuntungkan dari batas-batas kepatuhan yang jelas.
Namun, jika RUU struktur pasar terus tertunda, perubahan jadwal kebijakan masih bisa memicu periode volatilitas. Bagi investor, mempertahankan perspektif jangka menengah hingga panjang serta menerapkan manajemen posisi dan strategi pengendalian risiko yang fleksibel tetap menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian regulasi yang berlanjut.





