
Platform analitik blockchain Artemis menunjukkan data terbarunya: volume transaksi penyesuaian bergulir 30 hari untuk stablecoin pada bulan Februari mencapai 7,2 triliun dolar AS, untuk pertama kalinya melampaui 6,8 triliun dolar AS pada periode yang sama di jaringan Automated Clearing House (ACH) milik AS. Ini merupakan tonggak bersejarah bagi sebuah kelas aset yang lahir kurang dari 12 tahun—ACH adalah tulang punggung inti sistem pembayaran Amerika Serikat, yang bertugas memproses sekitar 93% pembayaran gaji di AS.
(Sumber: Artemis)
Jaringan ACH adalah infrastruktur pembayaran paling inti dalam sistem keuangan Amerika Serikat, dikelola bersama oleh Federal Reserve dan National Automated Clearing House Association (Nacha), dengan 93% gaji AS disalurkan melalui jaringan tersebut. Makna stablecoin yang melampaui sistem ini bukan hanya terletak pada angka absolut volume transaksi, tetapi juga pada perbedaan mendasar antara kedua sistem tersebut.
ACH bergantung pada otorisasi perbankan, beroperasi pada jam kerja, dan dibatasi oleh batas wilayah negara; sementara stablecoin dapat beroperasi 24/7 di mana pun di seluruh dunia, tanpa memerlukan persetujuan dari lembaga perantara apa pun, serta tanpa dibatasi akhir pekan dan hari libur.
Perlu dicatat bahwa data Artemis telah mengecualikan aktivitas arbitrase MEV dan transaksi internal di bursa terpusat, sehingga menjadi tolok ukur perbandingan horizontal yang relatif konservatif dan dapat dibandingkan—bukan sekadar penumpukan total volume.
Pasar stablecoin mengalami ekspansi yang hampir setara dengan pertumbuhan eksponensial selama enam tahun terakhir:
2020: total pasokan stablecoin kurang dari 30 miliar dolar AS
Kuartal pertama 2026: total pasokan mencapai 315 miliar dolar AS, naik 8 miliar dolar AS dibanding kuartal pertama 2025
Pangsa pasar pada titik tertinggi sepanjang masa: stablecoin mencapai 75% dari total volume transaksi kripto pada kuartal pertama 2026, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa
Volume transaksi bulanan terus mencetak rekor: 7,2 triliun dolar pada Februari → 7,5 triliun dolar pada Maret, dengan tren masih naik
Direktur Konten perusahaan perdagangan GSR, Frank Chapparo, secara tegas mengatakan bahwa mengabaikan pertumbuhan meledak stablecoin akan membuat “kebangkrutan” bagi bank atau perusahaan fintech, dan menyoroti bahwa kenaikan pasokan dari 30 miliar menjadi 300 miliar dolar adalah sinyal yang tidak bisa dihindari oleh industri.
Pertumbuhan berkelanjutan pasar stablecoin memiliki dukungan yang jelas dari regulasi dan level institusi. The Genius Act (GENIUS Act) dipandang pasar sebagai katalis legislasi kunci yang mendorong adopsi stablecoin oleh institusi; saat ini rancangan tersebut telah masuk tahap pembahasan di Senat, sementara lingkungan regulasi AS terus memanas.
Analis Standard Chartered memprediksi bahwa pada 2028, total kapitalisasi pasar stablecoin akan mencapai 2 triliun dolar AS, meningkat lebih dari 530% dibanding saat ini yaitu 315 miliar dolar AS. Jika prediksi ini terwujud, ukuran pasar stablecoin akan masuk ke skala absolut “kepentingan sistemik” dalam keuangan tradisional, setara dengan jumlah pasokan M2 dari beberapa mata uang utama.
Perbandingan ini perlu penjelasan latar belakang. Data Artemis adalah nilai penyesuaian bergulir 30 hari, telah mengecualikan sebagian transaksi spekulatif, dan dibandingkan secara horizontal dengan volume transaksi harian rata-rata ACH. Kegunaannya saling tumpang tindih tetapi tidak sepenuhnya sama: ACH terutama melayani transfer antarbank di dalam negeri AS, sedangkan volume transaksi stablecoin mencakup berbagai skenario seperti pembayaran lintas negara, transaksi DeFi, dan penyelesaian institusional. Namun, sebuah kelas aset yang ada kurang dari 12 tahun yang mampu menyamai jaringan pembayaran paling inti di AS—itu memang tonggak yang memiliki makna mendalam.
Stablecoin (terutama USDC dan USDT) memainkan dua peran inti dalam pasar kripto: pertama, sebagai mata uang penetapan harga dan “keadaan peralihan” (para trader biasanya memindahkan stablecoin sebagai jembatan saat keluar-masuk aset kripto berbeda); kedua, sebagai alat likuiditas untuk lintas-chain dan lintas-platform. Dua fungsi ini mendorong frekuensi perputaran yang sangat tinggi, sehingga stablecoin mendominasi dalam total volume transaksi pasar kripto.
Faktor pendorong utamanya mencakup: percepatan adopsi oleh institusi setelah kerangka regulasi seperti “The Genius Act” terlaksana, tren penerbitan stablecoin sendiri oleh bank-bank utama global, serta ekspansi berkelanjutan pembayaran lintas negara dan ekosistem DeFi. Target 2 triliun dolar AS mewakili pertumbuhan lebih dari 530%, tetapi pasokan stablecoin dari 30 miliar dolar pada 2020 hingga 315 miliar dolar pada 2026 sudah memiliki preseden pertumbuhan lebih dari 10 kali, sehingga prediksi ini memiliki kredibilitas sejarah tertentu.