Depresi Besar adalah peristiwa keruntuhan ekonomi paling merusak abad ke-20. Krisis yang dimulai pada tahun 1929 dan berlanjut hingga akhir tahun 1930-an ini membuat ekonomi global terpuruk. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, perusahaan bangkrut, dan standar hidup menurun drastis. Pelajaran dari periode ini masih memengaruhi keputusan ekonomi dan kerangka regulasi keuangan pemerintah di berbagai negara hingga saat ini. Memahami bagaimana Depresi Besar terjadi dan mengapa begitu parah memiliki pentingnya yang signifikan bagi pemahaman kita tentang risiko ekonomi dan langkah-langkah pencegahan.
Penyebab Dasar Terjadinya Depresi Besar
Para ekonom umumnya percaya bahwa Depresi Besar bukanlah hasil dari satu peristiwa tunggal, melainkan hasil dari beberapa faktor ketidakseimbangan yang saling terkait.
Kejatuhan pasar saham tahun 1929 dan gelembung spekulasi
Kejatuhan beruntun pasar saham Amerika pada bulan Oktober (saat itu dikenal sebagai “Selasa Hitam”) menjadi pemicu krisis global ini. Dalam sepuluh tahun sebelumnya, Wall Street mengalami euforia investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harga saham sangat overvalued, dan banyak investor bahkan membeli saham dengan dana pinjaman, dengan taruhan yang sangat besar. Ketika kepercayaan investor tiba-tiba runtuh dan harga saham mulai turun, reaksi berantai tidak terhindarkan. Dalam beberapa minggu saja, tabungan jutaan masyarakat Amerika lenyap, di mana banyak dari mereka membeli saham dengan menggunakan pinjaman.
keruntuhan berantai sistem keuangan
Pasar saham yang anjlok memicu krisis keuangan. Para nasabah yang panik berbondong-bondong ke bank untuk menarik uang tunai, yang menyebabkan gelombang penarikan uang secara nasional. Karena pada saat itu tidak ada sistem asuransi simpanan dan pengawasan keuangan yang efektif, kebangkrutan satu bank seringkali menyebabkan kebangkrutan bank lain. Di Amerika Serikat saja, ribuan bank tutup, dan simpanan jutaan orang lenyap. Keruntuhan sistem perbankan memutus saluran pembiayaan bagi perusahaan dan individu, yang semakin memperburuk resesi ekonomi.
Penurunan tajam perdagangan global
Meskipun krisis berasal dari Amerika, gelombang dampaknya dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Negara-negara Eropa yang sudah lemah akibat Perang Dunia Pertama, kini kehilangan tujuan ekspor terpenting mereka akibat keruntuhan pasar Amerika. Pemerintah di berbagai negara menetapkan hambatan perdagangan untuk melindungi industri dalam negeri, yang justru memicu tindakan tarif balasan. Penyusutan perdagangan internasional adalah bencana: Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley yang dikeluarkan Amerika pada tahun 1930, meskipun berusaha melindungi industri Amerika, justru memperburuk sengketa perdagangan global.
Siklus jahat yang terbentuk akibat penurunan permintaan
Pengangguran dan ketidakpastian ekonomi mendorong konsumen dan perusahaan untuk mengurangi pengeluaran secara bersamaan. Penurunan permintaan konsumen menyebabkan pengurangan produksi, dan perusahaan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja. Peningkatan pengangguran selanjutnya menekan konsumsi, membentuk siklus jahat yang sulit untuk diputus.
Dampak Global Depresi Besar
Krisis pengangguran dan bencana kemanusiaan
Di negara-negara yang paling parah terdampak, tingkat pengangguran telah mencapai angka yang mengejutkan yaitu 25%. Orang-orang tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga kehilangan martabat dan harapan. Banyak tempat penampungan tunawisma muncul di jalanan kota. Antrian panjang terlihat di depan dapur umum, dan keluarga-keluarga diusir dari tempat tinggal sewa mereka. Wilayah pertanian menghadapi keadaan yang lebih sulit, kombinasi antara kekeringan dan resesi ekonomi membuat para petani terjebak dalam keputusasaan.
Penurunan Industri dan Kebangkrutan Bisnis
Dari toko kecil hingga grup industri besar, perusahaan mengalami kebangkrutan massal. Nilai produksi industri anjlok, dan sektor manufaktur, pertanian, serta layanan keuangan semuanya terkena dampak berat. Gangguan rantai pasokan menyebabkan reaksi berantai di komunitas lokal, dan ekonomi banyak kota kecil sepenuhnya runtuh.
Guncangan mendalam dalam politik dan masyarakat
Keputusasaan ekonomi telah melahirkan radikalisasi politik. Sistem demokrasi menghadapi tantangan di banyak negara, dan beberapa wilayah beralih ke gerakan ekstremis. Rezim otoriter muncul di Eropa, sebagian disebabkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang tidak mampu secara ekonomi. Struktur sosial menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jalan keluar dari krisis
Proses pemulihan dari Depresi Besar panjang dan tidak merata. Tidak ada satu solusi pun yang dapat membalikkan keadaan.
Intervensi pemerintah dan kerangka kebijakan ekonomi baru
Presiden Amerika Serikat Roosevelt melaksanakan rencana reformasi yang ambisius (yang disebut “New Deal”), yang mewakili titik balik di mana pemerintah memainkan peran yang lebih aktif dalam ekonomi. New Deal mencakup proyek-proyek pekerjaan umum berskala besar yang bertujuan menciptakan lapangan kerja dan merangsang permintaan. Pemerintah federal juga mendirikan lembaga pengawas baru untuk mengawasi bank dan pasar saham.
Banyak negara maju meniru Amerika Serikat, mendirikan asuransi pengangguran, sistem pensiun, dan program kesejahteraan sosial lainnya. Ini menandakan munculnya konsep negara kesejahteraan modern.
Produksi Perang dan Pemulihan Ekonomi
Meletusnya Perang Dunia Kedua memberikan dampak dorongan yang tidak terduga terhadap ekonomi banyak negara. Investasi besar-besaran pemerintah pada peralatan militer, amunisi, dan bahan perang lainnya menyebabkan lonjakan kapasitas industri dan penurunan cepat tingkat pengangguran. Pabrik-pabrik mulai beroperasi kembali, dan peluang kerja meningkat. “Keynesianisme perang” ini membantu banyak negara untuk sepenuhnya keluar dari resesi ekonomi.
Warisan yang Ditinggalkan oleh Depresi Besar
Dampak Depresi Besar jauh melampaui zamannya. Krisis ini mengubah secara permanen hubungan antara pemerintah dan ekonomi.
Pembuat kebijakan telah belajar bahwa sistem keuangan memerlukan pengawasan dan mekanisme asuransi yang kuat. Asuransi simpanan, pendirian Komisi Sekuritas dan pengawasan terhadap sektor perbankan berasal dari pengalaman periode ini. Sistem kesejahteraan modern - termasuk tunjangan pengangguran, jaminan sosial, dan layanan kesehatan publik - sebagian besar bertujuan untuk mencegah terulangnya bencana sosial seperti Depresi Besar.
Pemerintah mulai mengambil tanggung jawab yang lebih besar, yaitu memastikan stabilitas keuangan, memelihara kesehatan sistem perbankan, dan menyediakan jaringan perlindungan sosial. Prinsip-prinsip ini masih menjadi dasar kebijakan ekonomi arus utama hingga hari ini.
Pelajaran Sejarah dan Makna Kontemporer
Depresi Besar mengingatkan kita bahwa meskipun ekonomi pasar sangat efisien, namun juga memiliki risiko ketidakseimbangan yang serius. Spekulasi, kurangnya regulasi, dan kurangnya mekanisme darurat dapat menyebabkan konsekuensi bencana. Meskipun sistem keuangan modern lebih kompleks dan lebih tangguh dibandingkan dengan sistem pada tahun 1929, risiko dasar masih tetap ada.
Memahami penyebab dan konsekuensi dari Depresi Besar adalah penting untuk memahami siklus ekonomi modern, pencegahan krisis keuangan, dan respons kebijakan. Mengambil pelajaran dari sejarah kelam ini adalah kunci untuk membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Peringatan dari bencana ekonomi: Bagaimana Depresi Besar mengubah dunia
Pendahuluan
Depresi Besar adalah peristiwa keruntuhan ekonomi paling merusak abad ke-20. Krisis yang dimulai pada tahun 1929 dan berlanjut hingga akhir tahun 1930-an ini membuat ekonomi global terpuruk. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, perusahaan bangkrut, dan standar hidup menurun drastis. Pelajaran dari periode ini masih memengaruhi keputusan ekonomi dan kerangka regulasi keuangan pemerintah di berbagai negara hingga saat ini. Memahami bagaimana Depresi Besar terjadi dan mengapa begitu parah memiliki pentingnya yang signifikan bagi pemahaman kita tentang risiko ekonomi dan langkah-langkah pencegahan.
Penyebab Dasar Terjadinya Depresi Besar
Para ekonom umumnya percaya bahwa Depresi Besar bukanlah hasil dari satu peristiwa tunggal, melainkan hasil dari beberapa faktor ketidakseimbangan yang saling terkait.
Kejatuhan pasar saham tahun 1929 dan gelembung spekulasi
Kejatuhan beruntun pasar saham Amerika pada bulan Oktober (saat itu dikenal sebagai “Selasa Hitam”) menjadi pemicu krisis global ini. Dalam sepuluh tahun sebelumnya, Wall Street mengalami euforia investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harga saham sangat overvalued, dan banyak investor bahkan membeli saham dengan dana pinjaman, dengan taruhan yang sangat besar. Ketika kepercayaan investor tiba-tiba runtuh dan harga saham mulai turun, reaksi berantai tidak terhindarkan. Dalam beberapa minggu saja, tabungan jutaan masyarakat Amerika lenyap, di mana banyak dari mereka membeli saham dengan menggunakan pinjaman.
keruntuhan berantai sistem keuangan
Pasar saham yang anjlok memicu krisis keuangan. Para nasabah yang panik berbondong-bondong ke bank untuk menarik uang tunai, yang menyebabkan gelombang penarikan uang secara nasional. Karena pada saat itu tidak ada sistem asuransi simpanan dan pengawasan keuangan yang efektif, kebangkrutan satu bank seringkali menyebabkan kebangkrutan bank lain. Di Amerika Serikat saja, ribuan bank tutup, dan simpanan jutaan orang lenyap. Keruntuhan sistem perbankan memutus saluran pembiayaan bagi perusahaan dan individu, yang semakin memperburuk resesi ekonomi.
Penurunan tajam perdagangan global
Meskipun krisis berasal dari Amerika, gelombang dampaknya dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Negara-negara Eropa yang sudah lemah akibat Perang Dunia Pertama, kini kehilangan tujuan ekspor terpenting mereka akibat keruntuhan pasar Amerika. Pemerintah di berbagai negara menetapkan hambatan perdagangan untuk melindungi industri dalam negeri, yang justru memicu tindakan tarif balasan. Penyusutan perdagangan internasional adalah bencana: Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley yang dikeluarkan Amerika pada tahun 1930, meskipun berusaha melindungi industri Amerika, justru memperburuk sengketa perdagangan global.
Siklus jahat yang terbentuk akibat penurunan permintaan
Pengangguran dan ketidakpastian ekonomi mendorong konsumen dan perusahaan untuk mengurangi pengeluaran secara bersamaan. Penurunan permintaan konsumen menyebabkan pengurangan produksi, dan perusahaan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja. Peningkatan pengangguran selanjutnya menekan konsumsi, membentuk siklus jahat yang sulit untuk diputus.
Dampak Global Depresi Besar
Krisis pengangguran dan bencana kemanusiaan
Di negara-negara yang paling parah terdampak, tingkat pengangguran telah mencapai angka yang mengejutkan yaitu 25%. Orang-orang tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga kehilangan martabat dan harapan. Banyak tempat penampungan tunawisma muncul di jalanan kota. Antrian panjang terlihat di depan dapur umum, dan keluarga-keluarga diusir dari tempat tinggal sewa mereka. Wilayah pertanian menghadapi keadaan yang lebih sulit, kombinasi antara kekeringan dan resesi ekonomi membuat para petani terjebak dalam keputusasaan.
Penurunan Industri dan Kebangkrutan Bisnis
Dari toko kecil hingga grup industri besar, perusahaan mengalami kebangkrutan massal. Nilai produksi industri anjlok, dan sektor manufaktur, pertanian, serta layanan keuangan semuanya terkena dampak berat. Gangguan rantai pasokan menyebabkan reaksi berantai di komunitas lokal, dan ekonomi banyak kota kecil sepenuhnya runtuh.
Guncangan mendalam dalam politik dan masyarakat
Keputusasaan ekonomi telah melahirkan radikalisasi politik. Sistem demokrasi menghadapi tantangan di banyak negara, dan beberapa wilayah beralih ke gerakan ekstremis. Rezim otoriter muncul di Eropa, sebagian disebabkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang tidak mampu secara ekonomi. Struktur sosial menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jalan keluar dari krisis
Proses pemulihan dari Depresi Besar panjang dan tidak merata. Tidak ada satu solusi pun yang dapat membalikkan keadaan.
Intervensi pemerintah dan kerangka kebijakan ekonomi baru
Presiden Amerika Serikat Roosevelt melaksanakan rencana reformasi yang ambisius (yang disebut “New Deal”), yang mewakili titik balik di mana pemerintah memainkan peran yang lebih aktif dalam ekonomi. New Deal mencakup proyek-proyek pekerjaan umum berskala besar yang bertujuan menciptakan lapangan kerja dan merangsang permintaan. Pemerintah federal juga mendirikan lembaga pengawas baru untuk mengawasi bank dan pasar saham.
Banyak negara maju meniru Amerika Serikat, mendirikan asuransi pengangguran, sistem pensiun, dan program kesejahteraan sosial lainnya. Ini menandakan munculnya konsep negara kesejahteraan modern.
Produksi Perang dan Pemulihan Ekonomi
Meletusnya Perang Dunia Kedua memberikan dampak dorongan yang tidak terduga terhadap ekonomi banyak negara. Investasi besar-besaran pemerintah pada peralatan militer, amunisi, dan bahan perang lainnya menyebabkan lonjakan kapasitas industri dan penurunan cepat tingkat pengangguran. Pabrik-pabrik mulai beroperasi kembali, dan peluang kerja meningkat. “Keynesianisme perang” ini membantu banyak negara untuk sepenuhnya keluar dari resesi ekonomi.
Warisan yang Ditinggalkan oleh Depresi Besar
Dampak Depresi Besar jauh melampaui zamannya. Krisis ini mengubah secara permanen hubungan antara pemerintah dan ekonomi.
Pembuat kebijakan telah belajar bahwa sistem keuangan memerlukan pengawasan dan mekanisme asuransi yang kuat. Asuransi simpanan, pendirian Komisi Sekuritas dan pengawasan terhadap sektor perbankan berasal dari pengalaman periode ini. Sistem kesejahteraan modern - termasuk tunjangan pengangguran, jaminan sosial, dan layanan kesehatan publik - sebagian besar bertujuan untuk mencegah terulangnya bencana sosial seperti Depresi Besar.
Pemerintah mulai mengambil tanggung jawab yang lebih besar, yaitu memastikan stabilitas keuangan, memelihara kesehatan sistem perbankan, dan menyediakan jaringan perlindungan sosial. Prinsip-prinsip ini masih menjadi dasar kebijakan ekonomi arus utama hingga hari ini.
Pelajaran Sejarah dan Makna Kontemporer
Depresi Besar mengingatkan kita bahwa meskipun ekonomi pasar sangat efisien, namun juga memiliki risiko ketidakseimbangan yang serius. Spekulasi, kurangnya regulasi, dan kurangnya mekanisme darurat dapat menyebabkan konsekuensi bencana. Meskipun sistem keuangan modern lebih kompleks dan lebih tangguh dibandingkan dengan sistem pada tahun 1929, risiko dasar masih tetap ada.
Memahami penyebab dan konsekuensi dari Depresi Besar adalah penting untuk memahami siklus ekonomi modern, pencegahan krisis keuangan, dan respons kebijakan. Mengambil pelajaran dari sejarah kelam ini adalah kunci untuk membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif.