Dalam dunia keuangan, manusia cenderung untuk memperumit segalanya. Kita berpikir bahwa kesuksesan membutuhkan algoritma yang rumit, banyak layar, dan analisis yang tak berujung. Tetapi seorang pria, yang duduk di Omaha, minum Coca-Cola, dan membaca surat kabar kertas, telah membuktikan kepada dunia selama 60 tahun bahwa «kesederhanaan» adalah puncak kecerdasan finansial.
Warren Buffett bukan sekadar investor; dia adalah sekolah filsafat dalam mengelola kehidupan dan keuangan. Mari kita kenali perjalanan «Nabi Omaha», bukan untuk menghitung kekayaannya, tetapi untuk memahami bagaimana cara berpikir otak di balik kekayaan ini.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Dalam dunia keuangan, manusia cenderung untuk memperumit segalanya. Kita berpikir bahwa kesuksesan membutuhkan algoritma yang rumit, banyak layar, dan analisis yang tak berujung. Tetapi seorang pria, yang duduk di Omaha, minum Coca-Cola, dan membaca surat kabar kertas, telah membuktikan kepada dunia selama 60 tahun bahwa «kesederhanaan» adalah puncak kecerdasan finansial.
Warren Buffett bukan sekadar investor; dia adalah sekolah filsafat dalam mengelola kehidupan dan keuangan. Mari kita kenali perjalanan «Nabi Omaha», bukan untuk menghitung kekayaannya, tetapi untuk memahami bagaimana cara berpikir otak di balik kekayaan ini.