3 Maret, berita menunjukkan bahwa peningkatan risiko geopolitik di Timur Tengah memicu volatilitas besar di pasar global. Pada hari Senin, pasar saham Asia secara umum mengalami penurunan besar-besaran, sementara harga energi melonjak dengan cepat. Kontrak minyak mentah melonjak sekitar 17% dalam 24 jam, menembus angka $110 per barel, sementara harga Bitcoin tetap stabil di sekitar $67.000, tanpa menunjukkan tanda-tanda penjualan panik yang jelas.
Indeks saham utama di Asia mengalami dampak yang signifikan. Indeks Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 6%, dan indeks harga saham gabungan Korea Selatan turun sekitar 8%. Pasar khawatir bahwa perang dapat mengganggu rantai pasokan energi global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan jalur penting. Selat ini mengangkut sekitar 20% dari minyak mentah dunia, dan jika pengangkutan terganggu, harga minyak internasional bisa meningkat lebih jauh.
Data pasar prediksi menunjukkan bahwa ekspektasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek masih cukup kuat. Kontrak terkait Polymarket menunjukkan bahwa trader memperkirakan peluang harga minyak mencapai $120 per barel pada akhir Maret 2026 sebesar 76%. Namun, pasar derivatif juga menunjukkan sinyal yang berbeda. Pada platform Hyperliquid, tingkat pembiayaan kontrak berjangka minyak mentah perpetual berubah menjadi negatif, menandakan bahwa sebagian trader sedang bertaruh bahwa harga minyak mungkin mengalami koreksi.
Berbeda dengan volatilitas besar di pasar tradisional, aset kripto menunjukkan performa yang relatif stabil. Bitcoin tetap berada di sekitar $67.000, sementara Ethereum dan Solana mengalami kenaikan kecil. Pasar secara umum menganggap kenaikan harga minyak ini sebagai dampak gangguan pasokan energi, bukan risiko keuangan sistemik, sehingga pasar kripto tidak menunjukkan arus dana lindung nilai yang signifikan atau penjualan besar-besaran.
Sementara itu, ekspektasi suku bunga tetap stabil. Data dari Polymarket menunjukkan bahwa kemungkinan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan 18 Maret sekitar 98%, dan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir April hanya sekitar 12%. Jika harga minyak terus naik, tekanan inflasi bisa kembali muncul, dan ini akan menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam menetapkan kebijakan moneter. (CoinDesk)