Mitra utama Ripple, SBI Holdings, mengungkapkan dalam laporan keuangan Q2 mereka bahwa mereka telah secara resmi mengajukan dua permohonan inovatif untuk ETF enkripsi: ETF Aset Enkripsi Murni (terkait langsung dengan XRP dan Bitcoin) dan ETF Emas Digital Enkripsi (kombinasi ETF Emas + Aset Kripto). Langkah ini dianggap sebagai tonggak penting bagi pengakuan dan penerimaan regulasi XRP di Jepang dan bahkan Asia. Jika disetujui oleh Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA), ini akan menjadi ETF Spot XRP domestik pertama di Jepang, membuka likuiditas baru untuk ekosistem XRP, dan menarik lebih banyak dana institusi untuk get on board.
1. SBI melakukan dua pendekatan: mengajukan permohonan ETF murni enkripsi dan ETF campuran emas Raksasa keuangan Jepang SBI Holdings (dulu SoftBank Investment) mengungkapkan dalam pengumuman laporan keuangan kuartal kedua 2025, bahwa mereka telah secara resmi mengajukan dokumen aplikasi untuk dua jenis dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) inovatif. Rencana ini merupakan komponen inti dari strategi keuangan Q2 mereka, dan berita ini pertama kali diungkapkan oleh tokoh terkenal komunitas XRP, Amelie, melalui media sosial.
2. XRP Menuju Arus Utama: Dukungan Institusi dan Sinyal Terobosan Regulasi SBI memilih untuk memasukkan XRP ke dalam produk ETF unggulannya, yang menunjukkan keyakinan mendalam terhadap nilai dan utilitas jangka panjang token tersebut (terutama dalam bidang pembayaran lintas batas secara real-time). Sebagai pemegang saham penting Ripple, SBI terus mendorong penggunaan XRP di Koridor Keuangan Asia.
Meskipun Kanada telah memiliki perdagangan ETF XRP, namun di sebagian besar pasar utama termasuk Amerika Serikat, ETF spot XRP belum disetujui. Namun, di industri ini, diperkirakan secara umum bahwa Amerika Serikat mungkin akan menyetujui produk semacam itu antara September hingga Oktober 2025. Jika Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA) menjadi yang pertama menyetujui proposal ETF SBI, itu akan memiliki makna ikonik bagi ekosistem XRP dan seluruh industri—yang berarti XRP secara resmi menjadi aset investasi yang diatur, yang akan sangat meningkatkan kepercayaan investor. Analis pasar percaya bahwa langkah SBI ini mungkin mendorong lembaga keuangan lain untuk mengikuti meluncurkan produk serupa.
3. Inovasi Strategi Campuran: Menggabungkan Potensi Pertumbuhan Enkripsi dan Stabilitas Emas Inovasi dari ETF kripto emas digital terletak pada penggabungan potensi pertumbuhan aset kripto dengan stabilitas emas, menciptakan alat penyesuaian risiko yang inovatif. Strategi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan kelompok investor yang lebih luas, tetapi juga mengukuhkan posisi pionir SBI di persimpangan antara keuangan tradisional dan inovasi blockchain.
4. Evolusi Lingkungan Regulasi Jepang: Membuka Jalan untuk Inovasi Proposal ETF SBI bertepatan dengan perubahan sikap regulasi Jepang terhadap aset digital. Meskipun secara historis cenderung konservatif, baru-baru ini otoritas Jepang menunjukkan keterbukaan terhadap inovasi, di tengah hasil pemilu yang mengindikasikan kemungkinan perubahan besar dalam reformasi pajak, menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk peluncuran produk keuangan baru.
Kesimpulan: SBI Holdings sebagai mitra inti Ripple dan raksasa keuangan Jepang, mengajukan permohonan ETF aset kripto yang mencakup XRP dan ETF kripto emas digital, merupakan pertempuran kunci untuk mendapatkan pengakuan dari lembaga keuangan mainstream dan terobosan regulasi untuk XRP. Jika Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA) menyetujui, ini akan menjadi XRP ETF spot pertama di Asia, memberikan likuiditas institusional yang kuat pada ekosistem XRP, dan mungkin memimpin lembaga keuangan global untuk meluncurkan produk serupa. Langkah ini tidak hanya membuktikan visi SBI dalam menggabungkan keuangan tradisional dengan inovasi kripto (Blending TradFi and Crypto), tetapi juga dapat mempercepat proses pematangan kerangka regulasi aset kripto di Jepang dan bahkan di seluruh dunia. Fokus pasar beralih ke periode jendela persetujuan Q3-Q4 2025.